Machan alias Macan (=tiger) ialah nama kebesaran setiap kucing dalam keluarga ini, dari Machan I sampai sekarang, Machan IV. Setiap Machan bisa dipanggil Machan atau dengan nama panggilannya sendiri tanpa menghilangkan nama kebesarannya. Berikut sepenggal kisah para Machan.
Sudah 4 kucing terakhir saya beri nama Machan. Entah bagaimana, setelah Machan yang pertama pergi begitu saja tanpa jejak, sulit menemukan nama lain yang lebih imut daripada Machan untuk kucing saya berikutnya. Machan dipilih karena mirip kata macan, dan lagian kucing memang satu kelas dengan macan. Lalu bunyi -chan pada Machan, seperti sebutan chan di belakang nama anak-anak Jepang. Lucu. Machan, ya macan, ya anak-anak. Macan kecil, itulah Machan. Mungkin seperti itulah rasionalisasinya.
Machan I adalah Machan jantan dengan bulu loreng kuning keemasan. Sayang, saya samasekali tidak punya fotonya karena pada tahun itu HP berkamera masih mahal, dan di keluarga tidak ada yang punya. Machan I ini lahir 4 bersaudara dari kucing betina malang bernama Mima. Mima dibiarkan melahirkan di gudang rumah dan lahirlah Machan dan saudara-saudaranya. Machan pertama ini seingat saya paling ganteng dan berat. Kalau digendong mantap lah beratnya. Tapi sayang, ia harus sakit dan sayangnya ia tidak mau minum obat sedikitpun, malah cenderung senang menyendiri, sampai akhirnya hilang tak kembali.
Machan II adalah anak generasi ke 2 dari Mima yang lahir di gudang. Mima melahirkan anak jantan yang persis sama dengan Machan I. Ow betapa senangnya hati saya. Mirip plek. Jantan, loreng, emas, Machan! Namun sayang, belum genap setahun umurnya, Machan II harus hilang justru di hari istimewa, hari raya kurban. Waktu itu saya memaknai kepergiannya sebagai keikhlasan untuk kehilangan sesuatu yang sangat kita sayangi. Huhuhu.
Nah, Machan III, adalah Machan yang paling lama saya pelihara. Empat setengah tahun. Ia adalah keponakan dari Machan I, anak dari salah satu saudaranya yang bernama Nala. Saya punya terlalu banyak cerita dengan Machan III ini. Terlalu banyak. Tapi tidak sanggup saya ceritakan karena...
Seperti para pendahulunya, Machan III juga pergi tanpa jejak. Mukso. Hilang begitu saja, padahal terakhir kelihatan dalam keadaan sehat wal afiat. Kehilangan Machan III merupakan kehilangan yang paling memukul buat saya. Apa sebab? Karena dia sudah bertahan selama 4,5 tahun. Selama itu telah membuat saya terlalu terbiasa dengan keberadaannya.
Di tengah kedukaan saya ditinggal pergi Machan III, saya mendengar suara gedebugan dan oeng-oeng anak kucing di genteng. Dua hari kemudian, muncul dua anak kucing usia 1 bulanan, jadi sudah bukan bayi lagi. Yang satu jantan berbulu hitam ala zorro, jadi semua hitam kecuali keempat kaki dan moncongnya. Yang satu lagi betina, campuran loreng dan putih, dengan hidung dan mulut pink. Saya curiga, jangan-jangan ini anaknya Machan III. Walaupun saya tidak terlalu kaget, karena selama ini Machan III sudah berkali-kali gonta-ganti istri dan punya anak. Tapi karena sekarang yang bersangkutan sudah tiada, terduga anak-anaknya membuat saya menaruh harapan.
Dua anak kucing itu galak dan takut manusia. Keadaan mereka kurus dan sayu kurang makan. Emaknya sudah lama pergi, kawin lagi barangkali. Dasar. Pertama kali diberi makan nasi campur ikan mereka malah muntah. Hiiy, jijay banget deh. Akhirnya saya beri susu. Mereka minum dengan lahapnya. Eh bukan mereka, tepatnya si betina kecil, sedang yang jantan terima ngalah. Saya curiga, melihat agresifnya, jangan-jangan si betina itulah anaknya Machan III. Maklum, sebagai kucing tunggal dia selalu tidak mau kalah, sifatnya juga agak angkuh, cuek, dan semau gue, bahkan pada saya! Dua hari mereka minum susu dan makan ikan sepotong-sepotong di rumah. Di hari ketiga ibu saya menemukan si jantan zorro mati di dekat tempat sampah. Mungkin dia dihajar kecing jantan lain. Menurut bacaan di internet, kehadiran kucing jantan baru biarpun masih bayi, akan menjadi ancaman eksistensi kucing jantan senior.
Dengan kematian si zorro, saya memutuskan untuk mengangkat si betina kecil sebagai Machan IV. Pertama agak setengah hati karena dia betina, tapi setelah dua mingguan saya melihat dia tambah gemuk dan mentes-mentes (istilah ibu saya). Matanya ceria dan nakal. Polahnya malah agak hiperaktif. Menyenangkan sekali. Melipur lara deh pokoknya. Membuat saya bertekad untuk mengangkatnya. Plus, ada dua hal yang membuat saya tidak ragu-ragu lagi kalau dia memang titisannya Machan III. Pertama, cara dia makan gado-gadoan lauk yang selalu dibawa pergi dari piring nasinya ke atas keset dapur yang sama dengan bapaknya dulu. Kedua, kemanjaannya minta pangku Bapak saya di meja kerjanya. Persis bapaknya banget. Dan memang kalau saya perhatikan, wajahnya mirip wajah Machan III waktu masih kecil 4 tahun lalu.
Akhirnya resmilah saya punya Machan lagi, Machan IV. Baru Machan ini yang punya nama panggilan khusus, dan karena dia cewek, saya kasih nama Miyong. Asal-usulnya karena si bocah ini tadinya tidak merespon panggilan apapun kecuali tiruan bunyi induknya "mieyong-mieyong", begitu. Miyong, Machan the 4th. Trah Machan yang baru. Kali ini rumah saya diwariskan kepada kucing betina sang ratu.
Nah, blog ini dimulai dengan kisah hidup si Machan IV, Miyong. Selamat menikmati :-)
No comments:
Post a Comment