Thursday, November 10, 2011

Puber

Manusia atau hewan ternyata sama saja, dalam hal yang satu ini: puber. Yang lagi puber biasanya lebih periang, tidak tenang, tidak biasa, dan over acting. Miyong juga begitu. Begitu saya sadar kalau dia lagi puber, saya cuma bisa pasrah. Duh, bentar lagi kucing gue bunting nih.

Malam ini saya menyaksikan sendiri tingkah Miyong yang over acting ala mahluk puber. Biasanya dia selalu takut keluar rumah, apalagi malam-malam. Nah, barusan tadi, sehabis makan malam, begitu saya bukakan pintu depan seperti rutinnya habis makan, Miyong langsung melesat ngacir. Kirain dia udah kebelet, ternyata dia cuma pingin lari secepat kilat sampai ujung halaman, habis itu balik lagi ke depan pintu. Dia celingak-celinguk kayak mencari sesuatu di sekitar. Akhirnya saya tinggal ke dalam, ngapain juga saya nungguin kucing puppis.

Sejam kemudian saya berencana memanggil Miyong masuk. Nah lo, saya memergoki Miyong lagi omong-omongan sama kucing hitam keling yang itu lagi. Belakangan saya tahu, kata Miyong namanya Roma, guru musik dan olah raga. Hmm... belakangan hari tante saya sering dipamitin Miyong sore-sore, katanya les piano. Katanya si Roma itu sambil ngajarin piano sambil nyanyi "pii-aa-noo..., mari main, pi-aa-noo". Miyong! Itu mah Rhoma Irama sama Yati Octavia!

Oh ya, kembali lagi. Jadi mereka waktu itu kepergok lagi ngobrol, bunyinya sih uung...eeng.. lirih, pelan gitu. Hanya mereka yang tahu apa artinya. Sekali lagi saya sibuk nyari apa aja yang keras di sekeliling. Dapet deh batu sedang buat nyambit si Roma. Pluk. Nggak kena, tapi berhasil membuat dia kabur. Ealah, begitu Roma hilang dari pekarangan, si Miyong kelihatan bingung, mukanya menoleh kesana kemari mencari-cari. Mungkin merasa kalau Roma masih ada di sekitar, Miyong berinisiatif untuk tampil atraktif. Dia lompat dari balik tanaman hias dan lari sekencang-kencangnya menuju pohon palem-paleman untuk memanjat pohon itu. Lalu ia turun lagi dengan lincahnya, lari ke pohon kamboja, memanjat lagi sebentar, turun, lari bolak-balik di pekarangan, naik bangku, turun bangku, dan akhirnya berhenti walau matanya masih tetap berputar-putar mencari si Roma. Akhirnya saya angkut Miyong masuk. Bukan main, dia lari ke jendela, ke balik korden, berusaha mencari pandangan keluar. Ck-ck-ck, saya nggak salah kan mengira dia lagi puber?

Sekarang sih Miyong sudah mau tidur. Tapi dari suaranya dia lagi main gelut-gelutan dengan tangan ibu saya. Habis dia nggak punya teman sebaya sih, jadinya ya tangan orang serumah ini yang pura-pura jadi lawannya. Enak juga lama-lama, sensasi digigit-gigit gigi-gigi kecilnya yang masih tajam itu. Dasar Miyong, ternyata kamu cuma bocah yang lagi puber.

No comments:

Post a Comment